Aku Mengiria Bahwa Senyumu adalah Senyum Palsu

Akhirnya aku mengira bahwa senyumu adalah senyum palsu, kebaikanmu hanyalah kebaikan semua. Kau pintar bermain kata-kata, kau pintar merubah suasana. Saat mata ini melihat senyumu, hati nuraniku berkata bahwa engkau tidak sedang tersenyum. Saat telinga ini mendengarkan ucapanmu, hati ini mengatakan bahwa engkau sedang membisu. Hati ini mengira bahwa segala aktifitasmu dalam usaha memanusiakan aku adalah palsu. Apakah hati ini sedang berbohong..? 

Hati tak pernah bohong, hati selalu benar dan selalu mengakui kebenaran juga kesalahan, hati selalu jujur. Dengan perasaan hati seperti ini, aku jadi tidak yakin dengannya, aku jadi tidak yakin dengan kasih dan sayang yang diberikannya kepada kami. Hati sedang berkata YA, bahwa dia sedang tidak pedulikan kehidupanku sebagai anak didiknya. 


Meski dia pernah berkata bahwa kami adalah anaknya dan dia adalah bapak kami semua, namun hatiku tidak percaya degan kata-katanya. Hati selalu berkata TIDAK, dia tidak menganggap kami sebagai anaknya, hati selalu mengira bahwa dia adalah pendusta, dia pintar bermain lidah, dia pandai memutarkan keadaan, menjadikan A menjadi B, dan menjadikan B menjadi A.

Itulah perkiraan hati yang sedang dirasakan sekarang ini. Apakah perkiraan hati ini benar atau salah? aku tak tahu, yang jelas perasaan sekarang ini beda dengan perasaan hari kemarin. Sekarang akut tidak nyaman tinggal di pondok ini, ingin sekali aku pergi dari sini dan mencari guru yang lebih bijaksana. Aku disini merasa mati, merasa tidak dianggap ada, sebab aku merasa tidak dihargai.

Sebab aku tidak biasa dengan suasana seperti ini. Suasana diasingkan dan dijauhi oleh seorang figur yang selama ini aku anggap sebagai tokoh yang ideal dan bijaksana. Tadinya aku bermaksud untuk menjadikannya sebagai salah satu pejuang hidupku, namun, kini rasanya tidak mungkin terjadi. Dari sikafnya aku mendapati sinyal yang buruk. Aku tidak ingin dengan adanya aku di sini membuat aku semakin buruk sangka kepadanya. Aku harap semoga perkiraan ini adalah perkiraan yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar