Dulu ketika hati masih bersatu dengan cinta, ketika tempat selalu bersahabat dan ketika semua orang berusaha mengejar martabat akhirat. Aku selalu memiliki hati, memiliki cinta, memiliki keinginan dan selalu terdepan saat pengajian berjalan. Terharu selalu aku rasa ketika itu, kini hanya tinggal kenangan, waktu dan tempat telah berkata lain kepadaku. Namun semua ini harus aku terima sebagai tanda ketabahan, artinya tabah menjalani kehidupan. Kehidupan ini aku jalani seperti air mengalir, selalu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Terharu itu kini kadang menyapu lamunan-lamunanku, keindahan bersama mereka dalam ikatan cinta sesama, dalam artian cinta yang bisasa, saling menghargai, saling menghormati dan saling memberikan masukan, saling tukar fikiran, saling berbagi ilmu. Itulah mungkin sebagai patilasan hidupku yang dulu, dan sekarang terasa akibatnya. Karena dulu aku tidak begitu merasakan capenya belajar, merasa kurang perihnya usaha, maka kini aku tidak puas dengan hasilnya, buahnya tidak begitu manis karena perjuangannya kurang matang.
Meskipun demikian, hati ini tetap tidak melupakan arti sebuah terimakasih, hati ini tetap merasakan begitu besar pemberian kepada-Nya, oleh karena itu hati tetap bisa mengucapkan "Alhamdu lillah" hati masih bisa bersyukur, mensyukuri apa yang telah aku raih. Hati meyakini bahwa semua ini terjadi karena kemaha asihan-Nya telah memancarkan sinar kasih-Nya kepadanya. Kini hatiku bersyukur yang kedua kalinya karena DIA telah menjadikannya mengenal ajaran-Nya terutama karena telah memasukanya ke tempat yang paling dia cintai yaitu sebuah pondok pesantren salafi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar