Apakah Takdir ini Bisa Dirubah

Kenapa aku ditakdirkan di tempat tidak nyaman ini, kenapa tidak engkau tampatkan aku di tampat yang lebih baik untuku. Aku rasa disini bukan tempatku untuk terus berbakti, apa artinya aku berbakti jika seseorang yang aku anggap sebagai figur dan guru tidak menghargai nilai baktiku. Apa artinya aku berbakti pada dia yang membalas baktiku dengan ancaman batinku. 

Sungguh aku kecewa memiliki seorang figur seperti itu, memiliki yang katanya guru seperti itu. Lebih baik aku lari dari sini dan mencari tempat yang lebih layak bagiku. Lebih baik aku lari mencari guru yang lebih baik darinya. Guru-guruku banya dan semuanya baik, rasa kasih dan sayangnya sangat terasa menyusup kedalam jiwa. Namun, yang satu ini, bersikap unik, aku tidak mengerti jalan fikirnya. Dengan baik-baik aku menawarkan jasa sebagai tanda pengabdianku kepadanya, dan tentusaja aku tidak mengharapkan imbalan apapun darinya, yang aku harap adalah dia bisa menghargai seluruh pengabdianku kepadanya.

Kalau harus aku katakan, aku mengabdi kepadanya atas dasar ketulusan hati yang paling dalam, aku mengabdi kepadanya hanya semata karena allah. Lalu kenapa disaat pengabdianku sepenuhnya, disaat hati an perasaanku dikorbankan untuk memikirkannya,  untuk memikirkan kemajuan pondok ini, maka disaat itu kenap jadi aku mendapatkan beban batin karena merasa dilecehkan dan seluruh pengorbananku terasa tidak dihargai.

Apakah dia tidak tahu cara berterimakasih, setidaknya menghargai usahaku, menghargai pengabdianku. Aku berkata seperti ini bukan berarti aku ingin imbalan atau timbal balik, yang aku inginkan adalah aku dianggap ada disini selayaknya, bukannya malah aku diasingkan, dicuekan. Apakah hal seperti itu pantas dilakukan kepada orang yang jelas mengabdi kepadanya..? Aku jadi pusing memikirkannya. Menyesal aku telah menjadi pengurus di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar