by Asri Supatmiati
Saya bukan penulis fiksi. Tepatnya, belum pernah menghasilkan buku fiksi. Menulis cerpen pernah. Menggagas novel, ada, tapi belum dilanjutkan. Apakah membuat buku fiksi itu lebih sulit daripada menulis buku nonfiksi? Jawabnya sangat subjektif. Bagi penulis fiksi, dia akan mengatakan menulis nonfiksi itu sulit. Bagi saya yang lebih sering menulis nonfiksi, menulis fiksi itu jauh lebih sulit.
Menurut saya, menulis nonfiksi, modal yang dibutuhkan adalah kejelian mencari tema, melihaian mencari bahan/data, ketajaman daya analisa, kedalaman konsep dan selebihnya teknik penulisan itu sendiri. Sedangkan menulis fiksi, butuh kemampuan ijaminasi tinggi, baik dalam menentukan tema, alur, tokoh dan karakternya, konflik, ending, dst.
Lantas apakah menulis fiksi juga bisa dengan menabung naskah? Tentu saja bisa. Cerpen misalnya. Kalau kita rutin sebulan sekali saja menulis cerpen, setahun sudah jadi 12 cerpen. Dan itu bisa menjadi kumpulan cerpen. Atau jenis tulisan yang sedang populer, flash fiction. Cerita-cerita mini itu bisa dikumpulkan menjadi sebuah buku yang juga mini misalnya.
Bagaimana dengan novel? Hemat saya, berimajinasi untuk sebuah kisah tak bisa ditunda-tunda. Justru, semakin menulis, imajinasi akan semakin liar. Jadi, mungkin agak sulit ¨menabung¨ imajinasi, karena biasanya sekali ditunda, akan lupa.
Karena itu, proses penulisan novel saya kira akan jauh lebih cepat karena imajinasi yang tak terbendung. Yang bisa menghentikan hanyalah waktu atau ¨gangguan-gangguan¨ tak terduga. Ya, kadang sedang asyik-asyiknya menulis sekuel sebuah novel, eh...tiba-tiba ada tamu, bayi rewel, anak nangis, jadwal kuliah, dll.
Nah, kira-kira Anda lebih cenderung ke jenis tulisan apa? Silakan saja menulis apa yang disuka. Sebaiknya fokus pada satu jenis tulisan, fiksi atau nonfiksi. Yang pasti, tulisan apa saja bisa dibukukan. Karena itu, segera periksa laptop atau komputer Anda. Siapa tahu Anda menemukan tulisan berharga di sana. Segera arsipkan kembali tulisan-tulisan yang selama ini berserak. Benahi dan permak sana-sini menjadi sebuah buku. Tunggu apalagi?
(BTW untuk yang ahil fiksi, saya panggil para novelis nih, silakan share bagaimana proses ide kreatifnya).(*bersambung: Pengaruh Deadline*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar